"Ada banyak. Ada ayam, ada daging, ada sayur"
"Kalau kucing ada?"
"Heh mana ada daging kucing dijual?"
------------------------------ ------------------------------ ----
SETIAP KATA ADALAH NETRAL, HINGGA DIMAKNAI SESUAI KONTEKS
SETIAP KATA ADALAH NETRAL, HINGGA DIMAKNAI SESUAI KONTEKS
Inilah sepenggal dialog antara seorang anak dengan seorang penjaja sayur bergerobak.
Dialog itu ada di dalam komik pa-mahmud episode 3 berjudul "ada kucing?" karya suami dan saya
Dialog seorang anak dengan penjaja sayur
Dialog yang mengandung distorsi namun penuh dengan inspirasi
Terlebih saat ilmu tentang distorsi dalam komunikasi , saya dapatkan dari kelas NLP Practice Group bersama coach Teddi Prasetya Yuliawan
Distorsi yang menginspirasi
Ternyata distorsi tidak bermakna negatif selalu loh
Sebelum berkenalan dengan distorsi, saya ingin mengajak sobat berimanajinasi sejenak
Yuk sama-sama membayangkan apa yang hadir di pikiran sobat bila saya menyebut kata "buku" ?
Mungkin ada yang akan menjawab "buku tulis", "buku gambar", "buku novel", "ebook", "buku pelajaran"
Setiap kepala akan memiliki pemaknaan yang beragam atas sebuah kata
Ini yang dimaskud dengan setiap kata adalah netral, hingga kata tersebut dimaknai dalam sebuah konteks
APA ITU DISTORSI
Apa yang hadir di pikiran kita saat membaca penggalan dialog di atas?
Bisa jadi, sebagian dari kita akan menganggap dialog tersebut aneh karena menghubung-hubungkan sesuatu yang tidak ada hubungannya.
Apa hubungannya bertanya ada kucing kepada penjaja sayur?
Menghubung-hubungkan sesuatu yang tidak ada hubungannya dalam konteks Neuro Linguistic Programming disebut dengan distorsi.
Distorsi dalam percakapan umum sering diartikan negatif.
Padahal hakikatnya setiap kata adalah netral, hingga ia dimaknai atau dibingkai dalam suatu konteks
Contohnya begini
kata "coklat"
Saya pernah bertanya, apa yang hadir di pikiranmu bila saya sebut kata "coklat" kepada 3 orang anak usia 8 tahun , jawabannya pun akan beragam
ada anak yang menjawab, es krim
anak lain menjawab merk permen coklat
ada lainnya menjawab susu coklat
Suatu kata adalah netral, hingga ia dimaknai sesuai konteks
Saat sebuah kata dihubungkan dengan konteks atau pengalaman yang mengikutinya, maka sebuah kata tidak lagi bersifat netral namun justru menyimpan banyak pemaknaan
Contohnya begini
kata "coklat"
Saya pernah bertanya, apa yang hadir di pikiranmu bila saya sebut kata "coklat" kepada 3 orang anak usia 8 tahun , jawabannya pun akan beragam
ada anak yang menjawab, es krim
anak lain menjawab merk permen coklat
ada lainnya menjawab susu coklat
Suatu kata adalah netral, hingga ia dimaknai sesuai konteks
Saat sebuah kata dihubungkan dengan konteks atau pengalaman yang mengikutinya, maka sebuah kata tidak lagi bersifat netral namun justru menyimpan banyak pemaknaan
Begitu pula dengan distorsi, ia juga memiliki manfaat positif bila tahu cara memanfaatkannya.
Yuk sejenak belajar bersama tentang distorsi mind reading dan distorsi causal modelling & linkage.
MENGAPA PENTING MEMPELAJARI DISTORSI ?
Mempelajari distorsi terasa penting karena kita sebagai orangtua mampu mendeteksi pola kalimat distorsi yang terucap dari anak-anak
Memang anak-anak bisa mengalami distorsi ?
Bisa
Ini contoh nyata, saya menyadari ada distorsi dari anak saya usia 8 tahun
Suatu sore, ia pulang sekolah
Ia diturunkan oleh mobil jemputannya di depan gang rumah
Di depan gang rumah, ada toko sembako
Saat itu, di depan toko sembako tersebut berdiri seorang anak perempuan usia 6 tahun.
Kita sebut saja namanya Melati.
kembali kepada celoteh anak saya,
Setelah mengucap salam di rumah, ia berkata kepada saya dengan nada sedikit tergesa
Bunda, ada nomor BBM ibunya Melati ?
Adanya Whatsapp kak, kenapakah?
Itu bun, tadi waktu aku turun dari mobil jemputan ada melati di depan tokonya baru pulang sekolah juga. Ia minta tolong ke aku untuk BBM ibunya Melati dari hp bunda. Katanya ibu dan ayahnya ga ada di rumah, mobilnya juga ga ada, dia sendirian jadi dia bingung.
--- DISTORSI TERDETEKSI ---
Sampai disini, saya menyadari anak saya mengalami proses komunikasi bernama distorsi.
Ya, ada kalimat yang mengandung distorsi dalam percakapan anak saya.
Distorsi yang membutuhkan klarifikasi.
Lalu bagaimana saya membantu anak saya mengenal ada distorsi dalam kalimat yang ia ucapkan sendiri?
Begini cara yang saya lakukan :
Kita ulangi kalimat terakhir yang diucapkan anak saya, yang mengandung distorsi ya
Memang anak-anak bisa mengalami distorsi ?
Bisa
Ini contoh nyata, saya menyadari ada distorsi dari anak saya usia 8 tahun
Suatu sore, ia pulang sekolah
Ia diturunkan oleh mobil jemputannya di depan gang rumah
Di depan gang rumah, ada toko sembako
Saat itu, di depan toko sembako tersebut berdiri seorang anak perempuan usia 6 tahun.
Kita sebut saja namanya Melati.
kembali kepada celoteh anak saya,
Setelah mengucap salam di rumah, ia berkata kepada saya dengan nada sedikit tergesa
Bunda, ada nomor BBM ibunya Melati ?
Adanya Whatsapp kak, kenapakah?
Itu bun, tadi waktu aku turun dari mobil jemputan ada melati di depan tokonya baru pulang sekolah juga. Ia minta tolong ke aku untuk BBM ibunya Melati dari hp bunda. Katanya ibu dan ayahnya ga ada di rumah, mobilnya juga ga ada, dia sendirian jadi dia bingung.
--- DISTORSI TERDETEKSI ---
Sampai disini, saya menyadari anak saya mengalami proses komunikasi bernama distorsi.
Ya, ada kalimat yang mengandung distorsi dalam percakapan anak saya.
Distorsi yang membutuhkan klarifikasi.
Lalu bagaimana saya membantu anak saya mengenal ada distorsi dalam kalimat yang ia ucapkan sendiri?
Begini cara yang saya lakukan :
Kita ulangi kalimat terakhir yang diucapkan anak saya, yang mengandung distorsi ya
Itu bun, tadi waktu aku turun dari mobil jemputan ada melati di depan tokonya. Ia minta tolong ke aku untuk BBM ibunya Melati dari hp bunda. Katanya ibu dan ayahnya ga ada di rumah, mobilnya juga ga ada, dia sendirian jadi dia bingung.
kakak minum dulu yuk, kita sambil duduk ngobrolnya
Sambil melihat kakak menikmati minumnya, saya pun terus mengingat presuposisi pertama dalam NLP yaitu "The Map is Not The Territory"
Saya meyakini bahwa cerita kakak adalah benar menurut "peta" yang ia miliki.
Pada saat saya menyadari "peta" yang kakak miliki, saya pun secara bersamaan juga mnggunakan presuposisi ke enam dalam neuro linguistic programming yaitu "we respect each person's of the world"
Saya menyadari kebenaran dari "peta" yang kakak yakini sekaligus juga saya menghargainya.
Saat sudah menyadari lalu muncul rasa menghargai, maka upaya membangun kedekatan tinggallah sejengkal lagi
Setelah ia minum dan lebih tenang, kita pun melanjutkan obrolan santai ini sambil duduk
Sambil melihat kakak menikmati minumnya, saya pun terus mengingat presuposisi pertama dalam NLP yaitu "The Map is Not The Territory"
Saya meyakini bahwa cerita kakak adalah benar menurut "peta" yang ia miliki.
Pada saat saya menyadari "peta" yang kakak miliki, saya pun secara bersamaan juga mnggunakan presuposisi ke enam dalam neuro linguistic programming yaitu "we respect each person's of the world"
Saya menyadari kebenaran dari "peta" yang kakak yakini sekaligus juga saya menghargainya.
Saat sudah menyadari lalu muncul rasa menghargai, maka upaya membangun kedekatan tinggallah sejengkal lagi
Setelah ia minum dan lebih tenang, kita pun melanjutkan obrolan santai ini sambil duduk
Jadi, ucap saya memulai. Menurut kakak, Melati sekarang sendirian di rumah?
Iya bun
Hmmm...oia tadi di tokonya Melati ada berapa orang yang beli kak ?
Hmmm ia berpikir sejenak, mengingat-ingat
Kayaknya ada beberapa bun yang beli cuma aku gak hitung karena aku ngobrolsama Melati
oh gitu, setiap hari ramai ya tokonya Melati alhamdulillah
oia kak, kira-kira di tokonya Melati siapa yang melayani pembeli ya tadi?
khan ada tantenya Melati bun di tokonya
----DISTORSI SUDAH DIKLARIFIKASI---
Saya ulangi, agar anak saya memahami dimana letak distorsinya
Jadi, ada siapa kak di tokonya Melati?
ada tantenya bun, yang layani pembeli
Nah berarti, apa Melati betul-betul di rumah sendirian?
hehehe..anak saya mulai berpikir dan pelan-pelan terbit senyum lucunya
kayaknya Melati ga sendirian di rumah sih bun
ada siapa ?
ada tantenya ehehehe
Jadi, sekarang apa yang kakak bisa lakukan?
Aku mau mandi, sholat lalu ke rumah Melati, mau tanya ayah ibunya sudah pulang belum, alu aku mau lihat tantenya masih ada ga di tokonya.
oke, kak...tossss
Dialog sederhana yang saya lakukan sebetulnya memiliki pesan yang sangat halus.
Pesannya berupa :
coba kakak baik-baik mengingat sejenak dengan detail.
Apa betul Melati sendirian di rumah?
Bila ternyata ada tantenya di toko, apa yang seharusnya Melati lakukan untuk mengetahui dimana keberadaan ayah ibunya?
Ya, tentu Melati perlu memberitahu tantenya terlebih dahulu untuk bertanya dimana ayah ibunya
Melati pun mengalami distorsi saat meminta tolong kepada Alifa untuk menghubungi ayah ibunya
Melati menghubung-hubungkan bahwa kebingungan ia karena ia sendiri
Padahal Melati (dari cerita anak saya, Melati tadi masih berdiri di garasi depan rumahnya melihat mobil tidak ada, dan sepertinya belum masuk ke toko) mungkin saja belum cek ke dalam toko untuk memastikan bahwa di dalam toko ada tantenya, yang bisa ditanyakan tentang ayah ibunya
Tentu anak saya dan Melati di usianya saat ini belum menyadari apa itu distorsi.
Tugas saya sebagai orangtua yang membantu mereka mengenali distorsi dan memanfaatkannya untuk komunikasi efektif
Dialog sederhana yang saya lakukan sebetulnya memiliki pesan yang sangat halus.
Pesannya berupa :
coba kakak baik-baik mengingat sejenak dengan detail.
Apa betul Melati sendirian di rumah?
Bila ternyata ada tantenya di toko, apa yang seharusnya Melati lakukan untuk mengetahui dimana keberadaan ayah ibunya?
Ya, tentu Melati perlu memberitahu tantenya terlebih dahulu untuk bertanya dimana ayah ibunya
Melati pun mengalami distorsi saat meminta tolong kepada Alifa untuk menghubungi ayah ibunya
Melati menghubung-hubungkan bahwa kebingungan ia karena ia sendiri
Padahal Melati (dari cerita anak saya, Melati tadi masih berdiri di garasi depan rumahnya melihat mobil tidak ada, dan sepertinya belum masuk ke toko) mungkin saja belum cek ke dalam toko untuk memastikan bahwa di dalam toko ada tantenya, yang bisa ditanyakan tentang ayah ibunya
Tentu anak saya dan Melati di usianya saat ini belum menyadari apa itu distorsi.
Tugas saya sebagai orangtua yang membantu mereka mengenali distorsi dan memanfaatkannya untuk komunikasi efektif
MANFAAT LAIN DISTORSI, MENUMBUHKAN MINAT BELAJAR ANAK
Lalu bila kita sudah menyadari pola distorsi, bisa digunakan untuk apa?
Menyadari distorsi bisa dimanfaatkan untuk membantu anak menumbuhkan minat belajar mereka.
Kok bisa? Bisa. Nanti di akhir tulisan ini akan diuraikan caranya.
Sekarang mari bersama kita membedah contoh distorsi yang tidak memberdayakan pada kisah "ada kucing?" di atas.
Kira-kira proses distorsi terjadi tepatnya pada percakapan yang mana?
Mari kita bedah sejenak.
Anak bertanya "ada apa saja, pak?"
Lalu penjaja sayur langsung menjawab tanpa ada jeda, tanpa ada klarifikasi :
"Ada banyak. Ada sayur, daging, ikan"
Ini adalah pola distorsi mind reading, dengan bersikap seolah mengerti isi pikiran (realitas internal) teman bicara yang tadi bertanya "ada apa saja pak?"
Penjaja sayur langsung menjawab "ada banyak. Ada sayur, daging, ikan" tanpa klarifikasi sebelumnya kepada anak.
Ia bersikap mind reading seolah mengerti isi pikiran (realitas internal) anak, padahal belum tentu apa yang dipikirkan sama dengan yang dipikirkan oleh anak.
Anak pun dengan realitas internal yang ia miliki, bertanya kembali sesuai dengan persepsinya "kalau kucing ada?"
Saat inilah distorsi causal modelling & linkage sedang terjadi.
Saat anak seakan-akan menghubung-hubungkan sesuatu yang tidak memiliki hubungan, yaitu saat penjaja sayur ditanya ada kucing? Apa hubungannya?
Penjaja sayur pun mengalami distorsi dengan jawaban anak.
Realitas internalnya gagal paham sejenak "apa hubungannya anak ini bertanya ada kucing kepada saya, seorang penjaja sayur?
Penjaja sayur pun kemudian melakukan lagi distorsi mind reading dengan mengucapkan "heh? Mana ada daging kucing dijual?"
Saat mendengar kalimat demi kalimat diucapkan oleh orang dewasa dan terdengar tidak nyambung dengan persepsi anak, kira-kira apa yang anak rasakan?
Ini ringkasan dialog di atas :
Anak bertanya, "ada kucing?" dengan maksud ingin memberi makan kucing
Lalu dijawab oleh orang dewasa, "heh? Mana ada daging kucing dijual?" dengan maksud memberitahu kalau ia tidak menjual daging kucing.
Jelas sekali bahwa anak memiliki outcome yang berbeda dengan penjaja sayur
Bagaimana respon anak bila mendapat teman bicara yang tidak memahami outcomenya?
Respon anak bisa berbeda-beda
Namun yang sering terjadi adalah anak memasuki internal state berupa rasa tidak nyaman bahkan bisa sampai menutup diri bila komunikasi mengalami kebuntuan seperti contoh di atas.
Kita stop sampai disini dulu
Kisah di atas adalah contoh distorsi mind reading (membaca pikiran) dan distorsi causal modelling & linkage (sebab akibat & kata sambung) yang bisa berpotensi membuat anak kehilangan minat belajar
Kok bisa? Ya bisa. Sebab komunikasi di atas terjadi dengan cepat, hampir tanpa jeda dan tidak ada proses klarifikasi.
Bila kita sebagai orang dewasa tidak menyadari ada distorsi dalam kalimat seorang anak, bisa jadi minat belajar anak akan semakin meredup
Mengapa bisa begitu?
Sebab distorsi yang tidak diklarifikasi bisa membuat internal state diantara 2 orang yang sedang berkomunikasi tidak saling terhubung menuju ke arah kesamaan outcome yang dituju
Saat internal state tidak saling terhubung dan semakin menjauh dari outcome komunikasi, di saat itulah distori yang tidak memberdayakan justru menjadi kendali dalam berkomunikasi
Kondisi ini mirip dengan pelatih atlit tenis yang pesimis dengan potensi atlit yang ia bina.
Bayangkan bila pelatih atlit justru mematahkan potensi atlit binaannya dengan serangkaian kalimat yang tidak memberdayakan. Apa yang terjadi?
Ya. Komunikasi yang hanya berisi pola kalimat yang tidak memberdayakan, bisa membuat anak pun menjadi tidak berdaya
Lalu bagaimana cara merubah keadaan seperti di atas justru menjadi sebuah distorsi yang semakin menumbuhkah minat belajar anak?
Kuncinya ada di kesadaran kita dalam menyadari ada pola kalimat distorsi pada kalimat yang diucapkan oleh anak
Contoh kalimat distorsi yang pernah saya dengar dari anak-anak :
Bertanya tentang kucing kepada penjaja sayur
Bertanya tentang bulan kepada penjual kue pukis
Bertanya tentang kereta api kepada penjual kembang api
Sampai disini apa sudah semakin memahami apa itu distorsi?
Ya. Di saat kita menyadari bahwa pola kalimat anak tidak berhubungan dengan konteks saat ia mengucapkannya namun ia tetap menghubung-hubungkannya, itulah distorsi.
Sudah jelas kah?
Kita coba lagi yuk
Sekarang kita akan berlatih menggunakan pola distorsi mind reading dan distorsi cause modelling & linkage seperti tadi namun kali ini dengan konteks yang memberdayakan dan menumbuhkan minat belajar anak
Mari kita ulangi percakapan di atas
Posisikan diri kita sebagai penjaja sayur ya
Siap?
Saat anak bertanya "ada apa saja, pak?
Sampai disini jeda sejenak
Bersiap menggunakan pola distorsi mind reading yang justru memberdayakan seperti ini :
"Apa saja yang adik butuhkan memang?"
Lalu anak menjawab :
"kalau kucing ada?"
Boleh gunakan distorsi mind reading lagi seperti ini :
"Memang biasanya kucing seperti apa yang adik cari?"
Lalu anak akan menjawab :
"Kucing yang suka ngikutin gerobak bapak"
"Aku mau kasih makan kucing"
Boleh juga ditambahkan distorsi cause modelling & linkage csebagai penutup :
"Oh adik hebat ya sejak kapan bisa tahu kalau ada kucing yang suka mengikuti di belakang gerobak sayur bapak"
Lalu, anak akan berpikir dan kemudian dengan senang akan menjawab pertanyaan yang mendukung rasa ingin tahunya.
Bagaimana, terasa bedanya bukan?
Saat distorsi diterapkan dalam konteks yang memberdayakan
Dan bedanya saat distorsi digunakan dalam konteks yang tidak memberdayakan
Nah, ini contoh pola kalimat mengandung distorsi yang bisa membantu anak menumbuhkan minat belajarnya
KUNCI MENYADARI DISTORSI
Jadi, darimana saya bisa mulai belajar menyadari pola kalimat yang mengandung distorsi ?
Sobat bisa belajar dari buku referensi yang saya tulis di akhir artikel ini, bila ingin lebih jauh memahami distorsi
Namun bila boleh sharing sedikit lagi, kunci menyadari distorsi terletak pada :
Bila ada sebuah kalimat yang sebetulnya tidak ada hubungannya, namun tetap dihubung-hubungkan
Jenis distorsi ada lima, namun yang saya bahas disini adalah distorsi tipe cause modelling and linkage
Contoh lagi ya sebelum penutup
Berikut contoh distorsi cause modelling and linkage yang digunakan dalam konteks tidak produktif sehingga dibutuhkan klarifikasi untuk membuatnya produktif kembali
karena ini akhir bulan, maka saya depresi
(bagaimana tepatnya hubungan sebab akibat antara akhir bulan, sehingga anda memutuskan untuk depresi?)
Bagaimana, sudah semakin jelaskah?
Bila sudah jelas, yuk berikut adalah contoh ditorsi cause modelling and linkage dalam konteks sugestif dan memberi semangat
sambil anda duduk, anda mulai rileks
Teman bicara anda merasa bahwa kalimat anda masuk akal, sebab kenyataannya ia memang sedang duduk
Meskipun bila kita baca berulang kali, sebetulnya tidak ada hubungannya sambil duduk, lalu mulai rileks. Apalagi bila teman bicara anda ternyata sedang lapar misalnya. Tentu kondisi rileksnya sulit didapat bila ia duduk. Kondisi rileksnya bisa didapat bila ia makan.
Namun inilah kehebatan distorsi bila digunakan untuk memotivasi teman bicara kita
Hal yang tidak ada hubungannya pun, bisa dihubung-hubungkan agar tercipta kalimat sugestif yang membuat teman bicara kita nyaman dan ia merasa kita bisa memahami dirinya.
Sampai juga di akhir artikel singkat ini
Semoga ada manfaat yang bisa diambil
Selamat berlatih menggunakan distorsi yang menginspirasi teman bicaramu
Pastikan niat tulus terpancang kuat sebelum mengeluarkan sebuah kalimat
Putri Anthi
Referensi :
KUNCI MENYADARI DISTORSI
Jadi, darimana saya bisa mulai belajar menyadari pola kalimat yang mengandung distorsi ?
Sobat bisa belajar dari buku referensi yang saya tulis di akhir artikel ini, bila ingin lebih jauh memahami distorsi
Namun bila boleh sharing sedikit lagi, kunci menyadari distorsi terletak pada :
Bila ada sebuah kalimat yang sebetulnya tidak ada hubungannya, namun tetap dihubung-hubungkan
Jenis distorsi ada lima, namun yang saya bahas disini adalah distorsi tipe cause modelling and linkage
Contoh lagi ya sebelum penutup
Berikut contoh distorsi cause modelling and linkage yang digunakan dalam konteks tidak produktif sehingga dibutuhkan klarifikasi untuk membuatnya produktif kembali
karena ini akhir bulan, maka saya depresi
(bagaimana tepatnya hubungan sebab akibat antara akhir bulan, sehingga anda memutuskan untuk depresi?)
Bagaimana, sudah semakin jelaskah?
Bila sudah jelas, yuk berikut adalah contoh ditorsi cause modelling and linkage dalam konteks sugestif dan memberi semangat
sambil anda duduk, anda mulai rileks
Teman bicara anda merasa bahwa kalimat anda masuk akal, sebab kenyataannya ia memang sedang duduk
Meskipun bila kita baca berulang kali, sebetulnya tidak ada hubungannya sambil duduk, lalu mulai rileks. Apalagi bila teman bicara anda ternyata sedang lapar misalnya. Tentu kondisi rileksnya sulit didapat bila ia duduk. Kondisi rileksnya bisa didapat bila ia makan.
Namun inilah kehebatan distorsi bila digunakan untuk memotivasi teman bicara kita
Hal yang tidak ada hubungannya pun, bisa dihubung-hubungkan agar tercipta kalimat sugestif yang membuat teman bicara kita nyaman dan ia merasa kita bisa memahami dirinya.
Sampai juga di akhir artikel singkat ini
Semoga ada manfaat yang bisa diambil
Selamat berlatih menggunakan distorsi yang menginspirasi teman bicaramu
Pastikan niat tulus terpancang kuat sebelum mengeluarkan sebuah kalimat
Putri Anthi
Referensi :
Yuliawan, Teddi Prasetya, NLP The Art of Enjoying Life (Jakarta : Serambi, 2014)
Ronodirdjo, Ronny F, Hypnotic Language Pattern (Jakarta : Sinergy Lintas Batas, 2016)
Klik di sini untuk Balas atau Teruskan
|

0 komentar:
Posting Komentar